Tampilkan postingan dengan label akmil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akmil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2014

ADIPURA KENCANA TAHUN 2014

 









Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggelar puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tahun 2014 di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, 5 Juni 2014, yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Boediono. Dalam kesempatan ini diserahkan penghargaan bidang lingkungan hidup yang meliputi Adipura, Kalpataru, Adiwiyata Mandiri serta Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Terbaik.

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam laporannya mengatakan, pada 2014 ini, Program Adipura melakukan evaluasi terhadap kinerja kebersihan dan keteduhan lingkungan perkotaan terhadap 373 kabupaten/kota. “Jumlah penerima penghargaan Adipura Kencana 15 kota, Adipura 86 kota, Piagam Adipura 32 kota dan Plakat Adipura untuk Sarana dan Prasarana Terbaik 32 kota. Anugerah Adipura Kencana diberikan kepada kota yang melampaui batas pencapaian dari segi pengendalian pencemaran air dan udara, pengelolaan tanah, perubahan iklim, sosial, ekonomi serta keanekaragaman hayati,” papar Menteri Lingkungan Hidup. Adapun untuk penghargaan Kalpataru diberikan kepada orang atau kelompok masyakarat yang telah melakukan upaya penyelamatan lingkungan hidup secara berlanjut yang hingga tahun 2014 jumlah penerima Kalpataru sebanyak 326 individu/kelompok masyarakat. Tahun ini, penghargaan Kalpataru disampaikan kepada 13 orang/kelompok.

Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Menteri Lingkungan Hidup, juga memberikan penghargaan kepada sekolah berbudaya lingkungan melalui Program Adiwiyata, yang hingga tahun 2014 diikuti oleh 6.357 sekolah. Tahun ini Dewan Pertimbangan Adiwiyata menetapkan peraih penghargaan Adiwiyata Mandiri kepada 44 sekolah dari 10 provinsi.

Sementara evaluasi terhadap Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), lanjut Balthasar Kambuaya, dilakukan untuk mendorong pemerintah daerah melaporkan kondisi lingkungan hidupnya. “Pada tahun ini,  penyusun SLHD Tahun 2013 terbaik untuk kategori Provinsi adalah Provinsi Sumatera Barat, Jambi, dan Jawa Timur. Untuk kategori Kabupaten/Kota diberikan kepada Kabupaten Dharmasraya, Kota Padang dan Kota Sungai Penuh,” kata Balthasar.

Pada perayaan HLH 2014 ini, Menteri Lingkungan Hidup menyerahkan Buku Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tematik Ketahanan Lingkungan 2013 serta Laporan Kinerja KLH Tahun 2009-2014.

Pada kesempatan ini, Wakil Presiden RI berkenan memberikan Penghargaan Lingkungan secara langsung dan menandatangani Sampul Hari Pertama Perangko Seri Peduli Lingkungan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2014. (Sumber : Humas Kementerian LH/ES, http://setkab.go.id)

Kota Magelang bersama 14 kota/kabupaten lain meraih Penghargaan Adipura Kencana Tahun 2014. 15 Kota/Kabupaten Peraih Penghargaan Adipura  Kencana Tahun 2014 yaitu “

1.    Kota Surabaya,  Kategori Kota Metropolitan
2.    Kota Tangerang, Kategori Kota Metropolitan.
3.    Kota Palembang, Kategori Kota Metropolitan.
4.    Kota Malang, Kategori Kota Besar.
5.    Kota Balikpapan, Kategori Kota Besar.
6.    Kota Madiun, Kategori Kota Sedang.
7.    Kabupaten Tulungagung, Kategori Kabupaten Sedang
8.    Kota Probolinggo, Kategori Kota Sedang.
9.    Kota Magelang, Kategori Kota Sedang.
10.       Kabupaten Jombang, Kategori Kota Sedang.
11.       Kota Kendari, Kategori Kota Sedang.
12.       Kabupaten Pati, Kategori Kota Kecil.
13.       Kabupaten Banjar, Kategori Kota Kecil.
14.       Kabupaten Lamongan, Kategori Kota Kecil.
15.       Kabupaten Tuban, Kategori Kota Kecil.

Pemerintah Kota Magelang menyelenggarakan Kirab Adipura Kencana Tahun 2014 pada hari Jum’at, 6 Juni 2014, jam : 15.00 WIB – selesai, Route Kirab Adipura Kencana Tahun 2014 : start di Markas Yon Armed 3/Tarik Naga Pakca, Sambung – Jalan Ahmad Yani – Jalan Pemuda – Jalan Sudirman – Finish di Halaman Pemerintah Kota Magelang. Kirab dan upacara penerimaan Adipura Kencana Tahun 2014 melibatkan SKPD Pemerintah Kota Magelang dan seluruh komponen masyarakat Kota Magelang.


ADIPURA KENCANA











Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggelar puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tahun 2014 di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, 5 Juni 2014, yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Boediono. Dalam kesempatan ini diserahkan penghargaan bidang lingkungan hidup yang meliputi Adipura, Kalpataru, Adiwiyata Mandiri serta Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Terbaik.

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam laporannya mengatakan, pada 2014 ini, Program Adipura melakukan evaluasi terhadap kinerja kebersihan dan keteduhan lingkungan perkotaan terhadap 373 kabupaten/kota. “Jumlah penerima penghargaan Adipura Kencana 15 kota, Adipura 86 kota, Piagam Adipura 32 kota dan Plakat Adipura untuk Sarana dan Prasarana Terbaik 32 kota. Anugerah Adipura Kencana diberikan kepada kota yang melampaui batas pencapaian dari segi pengendalian pencemaran air dan udara, pengelolaan tanah, perubahan iklim, sosial, ekonomi serta keanekaragaman hayati,” papar Menteri Lingkungan Hidup. Adapun untuk penghargaan Kalpataru diberikan kepada orang atau kelompok masyakarat yang telah melakukan upaya penyelamatan lingkungan hidup secara berlanjut yang hingga tahun 2014 jumlah penerima Kalpataru sebanyak 326 individu/kelompok masyarakat. Tahun ini, penghargaan Kalpataru disampaikan kepada 13 orang/kelompok.

Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Menteri Lingkungan Hidup, juga memberikan penghargaan kepada sekolah berbudaya lingkungan melalui Program Adiwiyata, yang hingga tahun 2014 diikuti oleh 6.357 sekolah. Tahun ini Dewan Pertimbangan Adiwiyata menetapkan peraih penghargaan Adiwiyata Mandiri kepada 44 sekolah dari 10 provinsi.

Sementara evaluasi terhadap Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), lanjut Balthasar Kambuaya, dilakukan untuk mendorong pemerintah daerah melaporkan kondisi lingkungan hidupnya. “Pada tahun ini,  penyusun SLHD Tahun 2013 terbaik untuk kategori Provinsi adalah Provinsi Sumatera Barat, Jambi, dan Jawa Timur. Untuk kategori Kabupaten/Kota diberikan kepada Kabupaten Dharmasraya, Kota Padang dan Kota Sungai Penuh,” kata Balthasar.

Pada perayaan HLH 2014 ini, Menteri Lingkungan Hidup menyerahkan Buku Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tematik Ketahanan Lingkungan 2013 serta Laporan Kinerja KLH Tahun 2009-2014.

Pada kesempatan ini, Wakil Presiden RI berkenan memberikan Penghargaan Lingkungan secara langsung dan menandatangani Sampul Hari Pertama Perangko Seri Peduli Lingkungan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2014. (Sumber : Humas Kementerian LH/ES, http://setkab.go.id)

Kota Magelang bersama 14 kota/kabupaten lain meraih Penghargaan Adipura Kencana Tahun 2014. 15 Kota/Kabupaten Peraih Penghargaan Adipura  Kencana Tahun 2014 yaitu “

1.    Kota Surabaya,  Kategori Kota Metropolitan
2.    Kota Tangerang, Kategori Kota Metropolitan.
3.    Kota Palembang, Kategori Kota Metropolitan.
4.    Kota Malang, Kategori Kota Besar.
5.    Kota Balikpapan, Kategori Kota Besar.
6.    Kota Madiun, Kategori Kota Sedang.
7.    Kabupaten Tulungagung, Kategori Kabupaten Sedang
8.    Kota Probolinggo, Kategori Kota Sedang.
9.    Kota Magelang, Kategori Kota Sedang.
10.       Kabupaten Jombang, Kategori Kota Sedang.
11.       Kota Kendari, Kategori Kota Sedang.
12.       Kabupaten Pati, Kategori Kota Kecil.
13.       Kabupaten Banjar, Kategori Kota Kecil.
14.       Kabupaten Lamongan, Kategori Kota Kecil.
15.       Kabupaten Tuban, Kategori Kota Kecil.

Pemerintah Kota Magelang menyelenggarakan Kirab Adipura Kencana Tahun 2014 pada hari Jum’at, 6 Juni 2014, jam : 15.00 WIB – selesai, Route Kirab Adipura Kencana Tahun 2014 : start di Markas Yon Armed 3/Tarik Naga Pakca, Sambung – Jalan Ahmad Yani – Jalan Pemuda – Jalan Sudirman – Finish di Halaman Pemerintah Kota Magelang. Kirab dan upacara penerimaan Adipura Kencana Tahun 2014 melibatkan SKPD Pemerintah Kota Magelang dan seluruh komponen masyarakat Kota Magelang.


Senin, 12 Mei 2014

KALISARI JADI PERINTIS KAMPUNG ORGANIK


KAMPUNG ORGANIK

Magelang Utara – Kampung Kalisari, Kelurahan Wates, Magelang Utara menjadi penggagas kampung organik di Kota Magelang. Setidaknya, upaya pengelolaan dan pemanfaatan sampah ini sudah dirintis oleh ibu-ibu kreatif di kampung setempat sejak dua tahun lalu. Ketua Paguyuban Perempuan Pengelola Sampah Terpadu, Legok Makmur, Kalisari, Nur lamiah mengatakan, upaya kreatif pihaknya itu muncul dari rencana pemanfaatan sampah. Sebab, tidak dipungkiri bahwa selama ini warga di kampung setempat kurang memperhatikan smpah ini.
“Waktu itu ada anggaran dari Kelurahan Wates untuk pengelolaan sampah. Kita awali dengan dana yang sangat sedikit itu untuk mengolah sampah dengan karya-karya sederhana. Misalnya kompos, tanaman organik dan aksesoris dari sampah,” katanya, saat ditemui di kediamannya.

Namun berkat kerja keras para penggagas dari RT 01 RW 08 Kelurahan Wates ini, sampah yang biasanya hanya memberikan dampak bau tidak sedap, disulap menjadi barang-barang laik jual. Tak pelak, usaha 7 (tujuh) ibu-ibu di lingkungan RT setempat, kini sudah memiliki penghasilan lain dari pengolahan sampah tersebut. “Semua dari sampah. Ada kampung organik,yang terdiri dari tanaman sayur dan buah-buahan, bank sampah, recycle sampah dan lainnya. Bahkan, sekarang kita sudah punya koperasi sendiri, “ jelas Nur Lamiah.

Diantara hasil pengolahan sampah itu, Nur Lamiah dan beberapa ibu rumah tangga lainnya terus mengembangkan upaya-upaya lain untuk menciptakan sebuah terobosan baru, antara lain : usaha peternakan, perikanan, penjualan sembako dan lainnya. “Di sektor peternakan, kita punya ayam arab, tentunya sudah ada pesanan dari pelanggan. Kemudian, supaya ibu-ibu ini peduli dengan sampah, kita terapkan sistem barter sampah dengan sembako. Sampah ditimbang dan hasilnya nanti bisa mendapatkan sembako,” imbuh Nur Lamiah.

Ditambahkan Lisdiarti, Ibu RT 01 RW 08 Kelurahan Wates, bahwa keberadaan Kampung Organik di kawasan itu saat ini sudah memiliki aneka tanaman yang cukup kompleks. Untuk sayuran, bahkan pihaknya membudidayakan sawi jepang, yang harganya cukup mahal. “Semuanya didapat dari hasil pengolahan sampah ini. Tidak ada yang perlu mengeluarkan uang pribadi itu. Ya mulai dari komposnya, kemudian pengadaan pot, biaya itu kita alokasikan dari hasil penjualan recycle sampah,” ujarnya.

Tak pelak, Kampung Kalisari yang sudah menggagas dua tahun kampung organik ini, kini menjadi kawasan perkampungan satu-satunya di Kota Magelang yang tidak diperbolehkan mengikuti Lomba Kampung Organik. Selain menajdi yang pertama, Kampung Kalisari juga menjadi perkampungan langganan kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kemarin ada penilaian Adipura juga kesini. Itu namanya ada di buku tamu. Kami harap Kota Magelang bisa meraih Adipura lagi, “ pungkasnya. (wid)

Sumber :

Magelang Ekspress, Senin 12 Mei 2014, Kota Magelang









KAMPUNG ORGANIK


KAMPUNG ORGANIK

Magelang Utara – Kampung Kalisari, Kelurahan Wates, Magelang Utara menjadi penggagas kampung organik di Kota Magelang. Setidaknya, upaya pengelolaan dan pemanfaatan sampah ini sudah dirintis oleh ibu-ibu kreatif di kampung setempat sejak dua tahun lalu. Ketua Paguyuban Perempuan Pengelola Sampah Terpadu, Legok Makmur, Kalisari, Nur lamiah mengatakan, upaya kreatif pihaknya itu muncul dari rencana pemanfaatan sampah. Sebab, tidak dipungkiri bahwa selama ini warga di kampung setempat kurang memperhatikan smpah ini.
“Waktu itu ada anggaran dari Kelurahan Wates untuk pengelolaan sampah. Kita awali dengan dana yang sangat sedikit itu untuk mengolah sampah dengan karya-karya sederhana. Misalnya kompos, tanaman organik dan aksesoris dari sampah,” katanya, saat ditemui di kediamannya.

Namun berkat kerja keras para penggagas dari RT 01 RW 08 Kelurahan Wates ini, sampah yang biasanya hanya memberikan dampak bau tidak sedap, disulap menjadi barang-barang laik jual. Tak pelak, usaha 7 (tujuh) ibu-ibu di lingkungan RT setempat, kini sudah memiliki penghasilan lain dari pengolahan sampah tersebut. “Semua dari sampah. Ada kampung organik,yang terdiri dari tanaman sayur dan buah-buahan, bank sampah, recycle sampah dan lainnya. Bahkan, sekarang kita sudah punya koperasi sendiri, “ jelas Nur Lamiah.

Diantara hasil pengolahan sampah itu, Nur Lamiah dan beberapa ibu rumah tangga lainnya terus mengembangkan upaya-upaya lain untuk menciptakan sebuah terobosan baru, antara lain : usaha peternakan, perikanan, penjualan sembako dan lainnya. “Di sektor peternakan, kita punya ayam arab, tentunya sudah ada pesanan dari pelanggan. Kemudian, supaya ibu-ibu ini peduli dengan sampah, kita terapkan sistem barter sampah dengan sembako. Sampah ditimbang dan hasilnya nanti bisa mendapatkan sembako,” imbuh Nur Lamiah.

Ditambahkan Lisdiarti, Ibu RT 01 RW 08 Kelurahan Wates, bahwa keberadaan Kampung Organik di kawasan itu saat ini sudah memiliki aneka tanaman yang cukup kompleks. Untuk sayuran, bahkan pihaknya membudidayakan sawi jepang, yang harganya cukup mahal. “Semuanya didapat dari hasil pengolahan sampah ini. Tidak ada yang perlu mengeluarkan uang pribadi itu. Ya mulai dari komposnya, kemudian pengadaan pot, biaya itu kita alokasikan dari hasil penjualan recycle sampah,” ujarnya.

Tak pelak, Kampung Kalisari yang sudah menggagas dua tahun kampung organik ini, kini menjadi kawasan perkampungan satu-satunya di Kota Magelang yang tidak diperbolehkan mengikuti Lomba Kampung Organik. Selain menajdi yang pertama, Kampung Kalisari juga menjadi perkampungan langganan kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kemarin ada penilaian Adipura juga kesini. Itu namanya ada di buku tamu. Kami harap Kota Magelang bisa meraih Adipura lagi, “ pungkasnya. (wid)

Sumber :

Magelang Ekspress, Senin 12 Mei 2014, Kota Magelang








NUR LAMIAH


KAMPUNG ORGANIK

Magelang Utara – Kampung Kalisari, Kelurahan Wates, Magelang Utara menjadi penggagas kampung organik di Kota Magelang. Setidaknya, upaya pengelolaan dan pemanfaatan sampah ini sudah dirintis oleh ibu-ibu kreatif di kampung setempat sejak dua tahun lalu. Ketua Paguyuban Perempuan Pengelola Sampah Terpadu, Legok Makmur, Kalisari, Nur lamiah mengatakan, upaya kreatif pihaknya itu muncul dari rencana pemanfaatan sampah. Sebab, tidak dipungkiri bahwa selama ini warga di kampung setempat kurang memperhatikan smpah ini.
“Waktu itu ada anggaran dari Kelurahan Wates untuk pengelolaan sampah. Kita awali dengan dana yang sangat sedikit itu untuk mengolah sampah dengan karya-karya sederhana. Misalnya kompos, tanaman organik dan aksesoris dari sampah,” katanya, saat ditemui di kediamannya.

Namun berkat kerja keras para penggagas dari RT 01 RW 08 Kelurahan Wates ini, sampah yang biasanya hanya memberikan dampak bau tidak sedap, disulap menjadi barang-barang laik jual. Tak pelak, usaha 7 (tujuh) ibu-ibu di lingkungan RT setempat, kini sudah memiliki penghasilan lain dari pengolahan sampah tersebut. “Semua dari sampah. Ada kampung organik,yang terdiri dari tanaman sayur dan buah-buahan, bank sampah, recycle sampah dan lainnya. Bahkan, sekarang kita sudah punya koperasi sendiri, “ jelas Nur Lamiah.

Diantara hasil pengolahan sampah itu, Nur Lamiah dan beberapa ibu rumah tangga lainnya terus mengembangkan upaya-upaya lain untuk menciptakan sebuah terobosan baru, antara lain : usaha peternakan, perikanan, penjualan sembako dan lainnya. “Di sektor peternakan, kita punya ayam arab, tentunya sudah ada pesanan dari pelanggan. Kemudian, supaya ibu-ibu ini peduli dengan sampah, kita terapkan sistem barter sampah dengan sembako. Sampah ditimbang dan hasilnya nanti bisa mendapatkan sembako,” imbuh Nur Lamiah.

Ditambahkan Lisdiarti, Ibu RT 01 RW 08 Kelurahan Wates, bahwa keberadaan Kampung Organik di kawasan itu saat ini sudah memiliki aneka tanaman yang cukup kompleks. Untuk sayuran, bahkan pihaknya membudidayakan sawi jepang, yang harganya cukup mahal. “Semuanya didapat dari hasil pengolahan sampah ini. Tidak ada yang perlu mengeluarkan uang pribadi itu. Ya mulai dari komposnya, kemudian pengadaan pot, biaya itu kita alokasikan dari hasil penjualan recycle sampah,” ujarnya.

Tak pelak, Kampung Kalisari yang sudah menggagas dua tahun kampung organik ini, kini menjadi kawasan perkampungan satu-satunya di Kota Magelang yang tidak diperbolehkan mengikuti Lomba Kampung Organik. Selain menajdi yang pertama, Kampung Kalisari juga menjadi perkampungan langganan kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kemarin ada penilaian Adipura juga kesini. Itu namanya ada di buku tamu. Kami harap Kota Magelang bisa meraih Adipura lagi, “ pungkasnya. (wid)

Sumber :

Magelang Ekspress, Senin 12 Mei 2014, Kota Magelang








AYO KE MAGELANG


KAMPUNG ORGANIK

Magelang Utara – Kampung Kalisari, Kelurahan Wates, Magelang Utara menjadi penggagas kampung organik di Kota Magelang. Setidaknya, upaya pengelolaan dan pemanfaatan sampah ini sudah dirintis oleh ibu-ibu kreatif di kampung setempat sejak dua tahun lalu. Ketua Paguyuban Perempuan Pengelola Sampah Terpadu, Legok Makmur, Kalisari, Nur lamiah mengatakan, upaya kreatif pihaknya itu muncul dari rencana pemanfaatan sampah. Sebab, tidak dipungkiri bahwa selama ini warga di kampung setempat kurang memperhatikan smpah ini.
“Waktu itu ada anggaran dari Kelurahan Wates untuk pengelolaan sampah. Kita awali dengan dana yang sangat sedikit itu untuk mengolah sampah dengan karya-karya sederhana. Misalnya kompos, tanaman organik dan aksesoris dari sampah,” katanya, saat ditemui di kediamannya.

Namun berkat kerja keras para penggagas dari RT 01 RW 08 Kelurahan Wates ini, sampah yang biasanya hanya memberikan dampak bau tidak sedap, disulap menjadi barang-barang laik jual. Tak pelak, usaha 7 (tujuh) ibu-ibu di lingkungan RT setempat, kini sudah memiliki penghasilan lain dari pengolahan sampah tersebut. “Semua dari sampah. Ada kampung organik,yang terdiri dari tanaman sayur dan buah-buahan, bank sampah, recycle sampah dan lainnya. Bahkan, sekarang kita sudah punya koperasi sendiri, “ jelas Nur Lamiah.

Diantara hasil pengolahan sampah itu, Nur Lamiah dan beberapa ibu rumah tangga lainnya terus mengembangkan upaya-upaya lain untuk menciptakan sebuah terobosan baru, antara lain : usaha peternakan, perikanan, penjualan sembako dan lainnya. “Di sektor peternakan, kita punya ayam arab, tentunya sudah ada pesanan dari pelanggan. Kemudian, supaya ibu-ibu ini peduli dengan sampah, kita terapkan sistem barter sampah dengan sembako. Sampah ditimbang dan hasilnya nanti bisa mendapatkan sembako,” imbuh Nur Lamiah.

Ditambahkan Lisdiarti, Ibu RT 01 RW 08 Kelurahan Wates, bahwa keberadaan Kampung Organik di kawasan itu saat ini sudah memiliki aneka tanaman yang cukup kompleks. Untuk sayuran, bahkan pihaknya membudidayakan sawi jepang, yang harganya cukup mahal. “Semuanya didapat dari hasil pengolahan sampah ini. Tidak ada yang perlu mengeluarkan uang pribadi itu. Ya mulai dari komposnya, kemudian pengadaan pot, biaya itu kita alokasikan dari hasil penjualan recycle sampah,” ujarnya.

Tak pelak, Kampung Kalisari yang sudah menggagas dua tahun kampung organik ini, kini menjadi kawasan perkampungan satu-satunya di Kota Magelang yang tidak diperbolehkan mengikuti Lomba Kampung Organik. Selain menajdi yang pertama, Kampung Kalisari juga menjadi perkampungan langganan kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kemarin ada penilaian Adipura juga kesini. Itu namanya ada di buku tamu. Kami harap Kota Magelang bisa meraih Adipura lagi, “ pungkasnya. (wid)

Sumber :

Magelang Ekspress, Senin 12 Mei 2014, Kota Magelang